Senin, 29 April 2013

PadI tidak bubar!!

Jambore SobatPadI 2013, Teruslah bernyanyi.....

oleh Jusan Sangpencerah (Catatan) pada 30 April 2013 pukul 8:00



Sejak Jambore Sobat PadI diSitu Gintung yang diadakan 14-15 April tahun 2012 usai, dalam suasana penuh euforia ( Para Sobat PadI bahagia karena pada Jambore Sobat PadI 2012 kelima personil Band vakum tersebut berkenan hadir meski dalam waktu terpisah), mereka yang hadir diJambore tersebut spontan menyerukan agar Jambore Tahun 2013 dalam rangkaian Ulang Tahun PadI ke-16 bisa diagendakan.
Yang saya sangat ingat pada Jambore SobatPadI 2012 lalu adalah ungkapan kerinduan Opa yang sejak PadI vakum, setiap tampil dipanggung, nengok kebelakang, ada yang "hilang".....setelah belasan tahun bersama, ada rasa taksama apabila menyaksikan sosok lain dibelakang drum, diposisi gitar, dan.... saya sedih banget membayangkan apabila saya diposisi Opa!! Sebagai BAND KELUARGA, ketiadaan seseorang dipanggung, pasti seperti kala kita berlebaran atau merayakan natal dan hari istimewa keluarga tanpa melihat salah satu kakak, adik, ayah, atau ibu kita...



Sejumlah oknum SobatPadI berpengaruh yang memiliki kecintaan pada PadI, selama berbulan-bulan sejak April 2012 itu tetap bersemangat untuk mengadakan Jambore Sobat PadI 2013.
SobatPadI Makassar dan Sobat PadI Surabaya menyampaikan kepada saya agar Tahun 2013 Jambore diadakan diYogyakarta, dengan harapan supaya Jambore tidak monoton diJakarta terus.... meski disampaikan secara informal, hal tersebut bagi saya sudah menjadi sebuah kehormatan dan merupakan amanah.
Tiap hari, saya terobsesi pada penyelenggaraan Jambore Sobat PadI 2013 di Yogyakarta.
Sejak lama saya termasuk seorang yang yakin bahwa segala sesuatu diDunia ini mungkin apabila kita mau, apabila kita yakin. Apalagi untuk mewujudkan niat baik, insya Allah semesta mendukung...dan Insya Allah ada jalan.


Mendekati akhir tahun 2012, antusiasme sejumlah SobatPadI berpengaruh atas Jambore Sobat PadI sedikit pudar, apalagi ketika sejak 17 Agustus 2012 proyek album Solo Mas Piyu mendapat "saudara kembar" berupa proyek musik dari 4 personil PadI lainnya yaitu Musikimia.
Karena PadI secara vokal identik dengan vokal Opa, tak salah jika banyak SobatPadI yang menganggap proyek Musikimia lebih mendekati PadI, dan sebagian SobatPadI militan secara naluriah memiliki kecintaan kepada Musikimia sebagai pelarian atas kerinduan mereka kepada PadI.
Dan kecintaan itu menjadikan banyak dari mereka ingin lebih konsen ber-senyawa karena ber-sobat terasa sebagai hal yang sia sia...jenuh menunggu!!Dan, Jambore SobatPadI 2013 semakin tak menarik..... :(
Tinggalah saya dan beberapa orang yang masih memiliki semangat untuk menyelenggarakannya....
Memasuki Tahun 2013, semakin banyak yang meyakinkan saya bahwa percuma mempersiapkan Jambore SobatPadI 2013, dan sejumlah argumen saya terima, yang intinya adalah gakusah buang buang energi untuk merancang Jambore SobatPadI!!
Saya tak bergeming, puncaknya pada 21 Maret 2013 saya mengupload status di beberapa Group Facebook SobatPadI.



Tanggapan yang saya terima atas hal ini adalah pesimisme dari banyak pihak. Dan saya diberi gambaran banyak Sobat PadI Jakarta yang berhalangan hadir karena banyak acara pribadi yang menghalangi kedatangan mereka keYogyakarta.
Menurut Sobat Deny, dari Jakarta mungkin hanya bisa hadir 6-7 orang.
Hanya sejumlah kecil SobatPadI yang tetap memberi semangat pada saya untuk tetap mengadakan acara ini.
Apa gunanya saya tahu dan terinspirasi perjuangan personil PadI yang meniti karir dari bawah, nekat jadi pembantu bengkel, rela jadi asisten gitaris Band, demi mewujudkan mimpi....
kami panitia Jambore merilis status difacebook pada 22 Maret 2013




Alhamdulillah, disalah satu Group Facebook, Opa merespon dengan memesan 2 kursi pada postingan mengenai Jambore tersebut.

Oh iya, sebelum tanggal tersebut dipilih, beberapa tanggal sempat menjadi alternatif. Ternyata karena ada jadwal umroh yang dijalani oleh Opa, akhirnya yang memungkinkan pelaksanaan Jambore SobatPadI bisa dihadiri sebanyak mungkin personil PadI adalah tanggal tersebut.



Usai menentukan hari dan tanggal, segera kami membuat email dan surat pemberitahuan secara informal kepada seluruh personil PadI yang intinya memohon ijin diadakannya acara yang akan menggunakan logo PadI dan berbagai hal terkait rencana acara, pembiayaan, serta tentu saja permohonan agar berkenan meluangkan jadwal pada hari Minggu 28 April 2013 sehingga memungkinkan para personil hadir dipuncak acara Jambore SobatPadI 2013.



Niat baik pasti akan diikuti Mestakung ( pertamakali saya dengar sih, istilah ini didengungkan oleh Prof.Johannes Surya pemimpin Tim Olimpiade Fisika Indonesia ), semesta mendukung...dan Mas Piyu beberapa waktu terakhir sepertinya kembali mendengungkan hal ini.

Dan Mestakung ini saya alami sendiri dengan adanya sejumlah keajaiban...
Saya menemukan hotel untuk menginap Sobat dari luar Jogja didekat rumah, dekat kantor istri saya, yang memberi harga Sobat....
Saya menemukan hotel untuk penginapan personil dan crew didekat rumah, sebuah hotel non bintang yang menurut saya tetap representatif bagi personil PadI dan crew....dengan harga sobat
Saya menemukan venue puncak acara Jambore, sebuah tempat yang layak untuk Band PadI melakukan performance sederhana.....dengan biaya sewa tempat harga sobat....



Dan harus diakui , tanpa mengesampingkan peran dan porsi personil PadI lainnya, Mas Piyu merupakan kartu truff, lakon, tokoh sentral, yang bisa menjadikan Jambore ini berlangsung sempurna atau tidak....ternyata sebagai bukti semesta mendukung ini, Mas Piyu menyampaikan kepada saya tentang jadwal Mas Piyu disekitar pelaksanaan Jambore memberi peluang akan bisa hadir diJogja pada hari H.
Sebagai ambassador suatu perusahaan, Mas Piyu yang memiliki responsibility menghadiri sejumlah acara perusahaan tersebut, berkenan mengsinkron-kan schedule-nya dengan acara Jambore.
Seperti dalam sepak bola, meski satu tim memiliki 11 pemain, namun dalam sebuah pertandingan, pasti ada 1-2 pemain yang menjadi lakon, biasanya seorang striker sebagai pencetak gol, atau seorang kiper tangguh yang bisa menggagalkan terciptanya gol digawang tim-nya, dan dalam Jambore SobatPadI 2013 ini, Mas Piyu menempati posisi itu....
Kerjasama 4 personil lain, akan kurang sempurna jika tanpa kemunculan Mas Piyu.



Ketika pada saat hari ulang tahun PadI ke-16 senin 8 April 2013 lalu Mas Piyu berkenan merayakannya bersama Sobat PadI Yogyakarta, dan menyampaikan dukungannya akan acara Jambore, saya tetap belum berani percaya akan kehadiran Mas Piyu pada puncak acara Jambore....
Bahkan ketika Mas Piyu memberitahu jadwalnya pada hari Sabtu 27 April 2013 sudah akan berada diYogyakarta untuk selanjutnya keMagelang sampai minggu siang, saya tetap belum berani percaya kita akan bisa menangis bersama......

Saya baru lega, ketika saat saya di Stage BOSHE VVIP Club, dan 4 personil PadI sudah ada diruang artis, ada seseorang yang memberitahu saya bahwa Mas Piyu datang diBackstage!!!!

Sobat, hingga 2 hari sejak kita menagis bahagia diarena Jambore itu....saya egois...ingin menikmati kebahagiaan saya sebagai sobat PadI sendirian....
Saya gakbanyak berbagi cerita bahagia...saya lebih banyak membaca ungkapan kebahagiaan sobat semua...



Segala ketidak sempurnaan terkait akomodasi, transportasi, dan lainnya...termasuk molornya acara dan batal tampilnya beberapa Sobat yang telah berlatih untuk bisa tampil diacara Jambore...semoga tertutup oleh kesempurnaan hadirnya 5 personil degan 5 tembang persembahan mereka bagi kita hari minggu lalu...

Opa, tengoklah kebelakang, ada semua sahabatmu!!!
Teruslah bernyanyi.......

Biarkan gambar bicara ( JAMBORE SOBAT PADI 2013 )









Minggu, 17 Maret 2013

JAMBORE SOBAT PadI 2013





Begitu banyak diantara kita yang terinspirasi dan termotivasi oleh sebuah lagu, oleh sebuah Band, atau oleh seorang / sekelompok musisi.
Bagi mereka yang terinspirasi oleh lagu-lagu / personil Band PadI, yang menyatu dalam Keluarga besar SOBAT PadI, tentu akan selalu ingat akan tanggal 8 April, Hari ulang tahun Band PadI.
Tahun ini, untuk ke-16 kalinya Sobat PadI akan merayakan Ulang Tahun Band PadI.
Atas antusiasme para Sobat PadI dan tentu dengan support yang tak kalah antusiasnya dari para personil PadI, setelah tahun lalu Sobat PadI mengadakan Jambore di Jakarta maka Tahun 2012 ini Jambore Sobat PadI akan dilaksanakan dikota Yogyakarta pada tanggal 27 - 28 April 2013.

Acara tersebut diharapkan akan diikuti oleh 300 - 500 Orang Sobat PadI aktif serta dihadiri ratusan Sobat PadI pasif / kalangan umum.


Biaya pendaftaran peserta Jambore adalah sebesar @ Rp 75.000,-
Biaya tersebut adalah iuran untuk membantu pendanaan acara.
Biaya sudah termasuk free tiket masuk kearena Puncak acara Jambore diTAMAN PURAWISATA ( Termasuk Makan dengan menu Buffet ).
Biaya tersebut diluar biaya makan, transportasi pribadi dan penginapan selama berada dikota Yogyakarta.
( Dengan menu wajar, sehat, nikmat ala Yogyakarta Rp 100.000,- sudah lebih dari cukup untuk makan  dan minum 2 hari serta transportasi umum selama berada di Yogyakarta )

Bagi terbatas 120 orang pendaftar pertama, panitia menyediakan kamar hotel yang representatif, cukup dengan menambah biaya sebesar @ Rp 25.000,-
Jadi, dengan membayar @ Rp 100.000,- maka 120 orang pendaftar pertama selain sudah membayar biaya pendaftaran sekaligus sudah bisa menginap di hotel yang disediakan, dengan fasilitas Fan / AC / Kamar mandi dalam dan sarapan Nasi goreng.
( Intip hotelnya disini : http://www.yogyes.com/id/yogyakarta-hotel/cheap/rumah-nugraha-hotel/ )


Biaya pendaftaran dikirim ke rekening BCA a/n Condro Suciati
Nomer rekening : 0400027986 

Setelah mentransfer, mohon bukti transfer dan data peserta dikirim via email ke alamat berikut:

jamboreSP13@gmail.com

Bagi peserta yang tidak memiliki rekening BCA bisa berkoordinasi dengan sobat lain atau diatur kemudian.

Untuk pertanyaan pertanyaan terkait JAMBORE ini, sebelum bertanya bisa baca dulu yang ini: TANYA JAWAB

 Rundown yang diikuti oleh peserta adalah:
Tanggal 27 April 2013
- Kehadiran peserta dan Registrasi dihotel ( 06:00 – 13:00 wib )
- Acara keakraban / tour singkat ke obyek wisata ( 14:00 – 19:00 wib ).
- Acara api unggun / keakraban dihotel ( 22:00 wib - Selesai )
- Minggu pagi - siang acara santai

Rundown Acara puncak
Minggu pukul 12:00 s/d 17:00 wib ( di BOSHE VVIP Club JOGJA )
* Donor darah ( Kerjasama dengan BOSHE dan PMI Kota Yogyakarta )
* Bazar merchandize, diikuti oleh:
- Sobat PadI dari seluruh daerah ( SPC, SPPB, SP Surabaya, SP Makasar dll masing2 buka booth jualan pernik2 khas daerah masing2 ),
- Musikimia
- Piyu corner
- Distro2 serta komunitas fans Band lain ( SheilaGank, Klanese, Kerabat, Gigikita, Slanker dll )
* Parade Band dipanggung ( Demoncrazy , dll dari Sobat PadI )
* Sekitar pukul 14:00 - 16:00 dimulai acara yang melibatkan personil,
Personil menyampaikan orasi, potong tumpeng, dll seperti saat di Situ Gintung 2012 lalu.



Tanya Jawab tentang JAMBORE SOBAT PadI

T: Kapan Jambore Sobat PadI Tahun 2013 dilaksanakan?
J: Tanggal 27 - 28 April 2013

T: Dimana Jambore Sobat PadI 2013 akan diadakan?
J: Dikota Yogyakarta

T: Mengapa tidak dilakukan pada tanggal 8 April 2013 bertepatan dengan HUT PadI ?
J: Saat panitia memulai persiapan acara Jambore Sobat PadI, belum diperoleh Jadwal dari para personil PadI, termasuk rencana Umroh salah satu personil PadI yang tanggalnya juga sekitar 8 April 2013. Tentu gak seru kalau Jambore tanpa kehadiran para personil

T: Apakah para personil akan hadir dalam Jambore Sobat Padi 2013 ?
J: Insya Allah Acara ini akan dihadiri oleh Mas Ari, Mas Rindra, Mas Yoyo, Mas Piyu dan Mas Fadly.
Konfirmasi kehadiran para personil sudah dilakukan secara intens oleh panitia kepada sebagian besar personil, dan secara berkala akan diupdate. Jika tidak ada perubahan rencana, Mas Fadly sudah akan berada di Yogyakarta beberapa hari sebelum acara Jambore. Personil lain masih akan menyesuaikan jadwal kedatangan di Yogyakarta, disesuaikan dengan update event yang direncanakan bisa diadakan di Yogyakarta berdekatan dengan waktu pelaksanaan Jambore Sobat PadI 2013.

T: Venue lokasi Jambore diadakan dimana ( Gedung / tempat acara ) ?
J: Jambore Sobat PadI 2013 akan dilaksanakan didua tempat, yang pertama adalah di Rumah Nugraha Hotel, tempat menginap 120 orang peserta, dengan acara yang mirip saat Jambore di Jakarta tahun lalu.
Selain kita bisa saling mengenal lebih dekat, dihotel tersebut bisa diadakan api unggun dan kegiatan kebersamaan lainnya.
Lokasi kedua adalah tempat acara puncak Jambore yang akan dihadiri oleh personil PadI, diadakan di BOSHE VVIP Club Yogyakarta.


T: Mengapa harus terpisah didua lokasi acara?
J: Karena dihotel tempat para Sobat menginap, tidak tersedia stage dan sound system yang layak untuk mengakomodir kemampuan bermusik para Sobat PadI yang piawai bermusik, apalagi kalau nanti para personil PadI berkenan memberikan perform spesial bagi Sobat PadI.
Sementara di BOSHE sebagai arena puncak acara Jambore yang melibatkan personil PadI, meskipun menyediakan stage, sound, lighting, dan berbagai kelengkapan "pesta Ultah PadI" yang representatif, namun mereka tidak memiliki fasilitas penginapan bagi Sobat PadI.
Karena itu, maka acara Jambore diadakan didua tempat.

T: Apakah tidak repot, dari hotel harus ke BOSHE? Bagaimana transportasi dan lama perjalanan?
J: Insya Allah Yogyakarta berbeda dengan Jakarta atau kota besar lainnya, meskipun jarak antara hotel dan BOSHE sekitar 5KM, namun sarana transportasi menuju kedua tempat tersebut cukup cepat dan sangat murah. Panitia sudah memperhitungkannya.

T: Berapa biaya pendaftarannya?
J: Pendaftaran peserta biayanya Rp 75.000,- per orang sudah termasuk tiket masuk ke BOSHE dan memperoleh hidangan Makan Malam menu Buffet.

T: Fasilitas apa saja yang didapat oleh peserta dengan iuran Rp 75.000,-
J: Yang diperoleh adalah tiket masuk senilai Rp 60.000,- serta kartu tanda peserta Jambore Sobat PadI 2013.

T: Bagaimana dengan penginapan?
J: Panitia menyediakan penginapan berupa hotel dengan 26 kamar yang memiliki kapasitas 120 orang dengan fasilitas Kamar mandi dalam, Fan/ AC, dan sarapan Nasi goreng untuk 120 orang.

T: Berapa tarif hotelnya?
J: Bagi peserta yang menginap ( sementara ini khusus bagi 120 orang pendaftar pertama ) cukup membayar Rp 100.000,- per orang sudah tercatat sebagai peserta Jambore dan menginap dihotel dengan fasilitas diatas.

T: Hotel 26 kamar, kapasitas 120 orang?
J: Masing-masing kamar dihotel memiliki kapasitas berbeda beda, ada yang untuk 2 orang , 4 orang, 6 orang, dan 8 orang. Meski dengan kapasitas berbeda-beda, namun kenyamanan peserta dijamin tak bermasalah.

T: Bagaimana dengan konsumsi dan transportasi?
J: Untuk konsumsi, sementara ini panitia ingin memberi kebebasan kepada peserta agar bisa menikmati wisata kuliner di Yogyakarta sesuai selera dan budget masing-masing, sehingga selain mengikuti acara Jambore juga bisa menikmati wisata kuliner. Namun jika peserta menghendaki penyediaan konsumsi oleh panitia, akan dipertimbangkan.

T: Kemana pendaftaran dan pembayaran dilakukan?
J: Pendaftaran dan pembayaran dilakukan melalui;
Rekening BCA ( Bank Central Asia )
a/n Condro Suciati
Nomor rekening 0400027986

T: Setelah mentransfer biaya pendaftaran, apa yang harus dilakukan?
J: Setelah mentransfer, kirim bukti transfer serta biodata peserta kealamat email berikut
jamboresp13@gmail.com
*Subyek email: "Pendaftaran" untuk yang tidak menginap dihotel
*Subyek email: "Pendaftaran+Hotel" untuk yang menginap dihotel
*Bio data meliputi: Nama, Alamat, dan nomor HP / Pin BB

T: Bagaimana dengan peserta yang tidak memiliki rekening tabungan BCA atau bahkan tidak memiliki rekening sama sekali?
J: Transfer bisa dilakukan antar Bank, atau langsung ke counter BCA terdekat, atau bisa dikoordinasikan dengan Sobat PadI lainnya yang dikenal / berdomisili dikota yang sama.





Jumat, 01 Maret 2013

Ini dadaku.... ( Serangan Oemoem 1 Maret 1949 ) BAG 1

Serangan Umum 1 Maret 1949

Serangan Umum 1 Maret 1949
Bagian dari Perang Kemerdekaan Indonesia
Monumen 1 Maret 1949.JPG
Monumen Serangan Umum 1 Maret
Tanggal 1 Maret 1949
Lokasi Yogyakarta
Hasil
  • Kemenangan strategis Indonesia
  • Kemenangan taktis Belanda
Pihak yang terlibat
 Indonesia  Belanda
Komandan
Jendral Soedirman
Kolonel A.H Nasution
Letkol Soeharto
Van Mook
Louis Joseph Maria Beel
Kekuatan
Tidak diketahui Tidak diketahui
Korban
300 prajurit tewas dan 53 anggota polisi tewas. 6 orang tewas dan diantaranya adalah 3 orang anggota polisi; selain itu 14 orang mendapat luka-luka.
Rakyat yang tewas tidak dapat dihitung dengan pasti.
Serangan Umum 1 Maret 1949 adalah serangan yang dilaksanakan pada tanggal 1 Maret 1949 terhadap kota Yogyakarta secara besar-besaran yang direncanakan dan dipersiapkan oleh jajaran tertinggi militer di wilayah Divisi III/GM III dengan mengikutsertakan beberapa pucuk pimpinan pemerintah sipil setempat berdasarkan instruksi dari Panglima Besar Sudirman, untuk membuktikan kepada dunia internasional bahwa TNI - berarti juga Republik Indonesia - masih ada dan cukup kuat, sehingga dengan demikian dapat memperkuat posisi Indonesia dalam perundingan yang sedang berlangsung di Dewan Keamanan PBB dengan tujuan utama untuk mematahkan moral pasukan Belanda serta membuktikan pada dunia internasional bahwa Tentara Nasional Indonesia (TNI) masih mempunyai kekuatan untuk mengadakan perlawanan. Soeharto pada waktu itu sebagai komandan brigade X/Wehrkreis III turut serta sebagai pelaksana lapangan di wilayah Yogyakarta.

Daftar isi

Latar belakang

Kurang lebih satu bulan setelah Agresi Militer Belanda II yang dilancarkan pada bulan Desember 1948, TNI mulai menyusun strategi guna melakukan pukulan balik terhadap tentara Belanda yang dimulai dengan memutuskan telepon, merusak jalan kereta api, menyerang konvoi Belanda, serta tindakan sabotase lainnya.
Belanda terpaksa memperbanyak pos-pos disepanjang jalan-jalan besar yang menghubungkan kota-kota yang telah diduduki. Hal ini berarti kekuatan pasukan Belanda tersebar pada pos-pos kecil diseluruh daerah republik yang kini merupakan medan gerilya. Dalam keadaaan pasukan Belanda yang sudah terpencar-pencar, mulailah TNI melakukan serangan terhadap Belanda.
Sekitar awal Februari 1948 di perbatasan Jawa Timur, Letkol. dr. Wiliater Hutagalung - yang sejak September 1948 diangkat menjadi Perwira Teritorial dan ditugaskan untuk membentuk jaringan pesiapan gerilya di wilayah Divisi II dan III - bertemu dengan Panglima Besar Sudirman guna melaporkan mengenai resolusi Dewan Keamanan PBB dan penolakan Belanda terhadap resolusi tersebut dan melancarkan propaganda yang menyatakan bahwa Republik Indonesia sudah tidak ada lagi. Melalui Radio Rimba Raya, Panglima Besar Sudirman juga telah mendengar berita tersebut. Panglima Besar Sudirman menginstruksikan untuk memikirkan langkah-langkah yang harus diambil guna meng-counter propaganda Belanda.
Hutagalung yang membentuk jaringan di wilayah Divisi II dan III, dapat selalu berhubungan dengan Panglima Besar Sudirman, dan menjadi penghubung antara Panglima Besar Sudirman dengan Panglima Divisi II, Kolonel Gatot Subroto dan Panglima Divisi III, Kol. Bambang Sugeng. Selain itu, sebagai dokter spesialis paru, setiap ada kesempatan, ia juga ikut merawat Panglima Besar Sudirman yang saat itu menderita penyakit paru-paru. Setelah turun gunung, pada bulan September dan Oktober 1949, Hutagalung dan keluarga tinggal di Paviliun rumah Panglima Besar Sudirman di (dahulu) Jl. Widoro No. 10, Yogyakarta.
Pemikiran yang dikembangkan oleh Hutagalung adalah, perlu meyakinkan dunia internasional terutama Amerika Serikat dan Inggris, bahwa Negara Republik Indonesia masih kuat, ada pemerintahan (Pemerintah Darurat Republik Indonesia – PDRI), ada organisasi TNI dan ada tentaranya. Untuk membuktikan hal ini, maka untuk menembus isolasi, harus diadakan serangan spektakuler, yang tidak bisa disembunyikan oleh Belanda, dan harus diketahui oleh UNCI (United Nations Commission for Indonesia) dan wartawan-wartawan asing untuk disebarluaskan ke seluruh dunia. Untuk menyampaikan kepada UNCI dan para wartawan asing bahwa Negara Republik Indonesia masih ada, diperlukan pemuda-pemuda berseragam Tentara Nasional Indonesia, yang dapat berbahasa Inggris, Belanda atau Perancis. Panglima Besar Sudirman menyetujui gagasan tersebut dan menginstruksikan Hutagalung agar mengkoordinasikan pelaksanaan gagasan tersebut dengan Panglima Divisi II dan III.
Letkol. dr. Hutagalung masih tinggal beberapa hari guna membantu merawat Panglima Besar Sudirman, sebelum kembali ke markasnya di Gunung Sumbing. Sesuai tugas yang diberikan oleh Panglima Besar Sudirman, dalam rapat Pimpinan Tertinggi Militer dan Sipil di wilayah Gubernur Militer III, yang dilaksanakan pada tanggal 18 Februari 1949 di markas yang terletak di lereng Gunung Sumbing. Selain Gubernur Militer/Panglima Divisi III Kol. Bambang Sugeng, dan Letkol Wiliater Hutagalung, juga hadir Komandan Wehrkreis II, Letkol. Sarbini Martodiharjo, dan pucuk pimpinan pemerintahan sipil, yaitu Gubernur Sipil, Mr. K.R.M.T. Wongsonegoro, Residen Banyumas R. Budiono, Residen Kedu Salamun, Bupati Banjarnegara R. A. Sumitro Kolopaking dan Bupati Sangidi.
Letkol Wiliater Hutagalung yang pada waktu itu juga sebagai penasihat Gubernur Militer III menyampaikan gagasan yang telah disetujui oleh Panglima Besar Sudirman, dan kemudian dibahas bersama-sama yaitu:
  1. Serangan dilakukan secara serentak di seluruh wilayah Divisi III, yang melibatkan Wehrkreise I, II dan III,
  2. Mengerahkan seluruh potensi militer dan sipil di bawah Gubernur Militer III,
  3. Mengadakan serangan spektakuler terhadap satu kota besar di wilayah Divisi III,
  4. Harus berkoordinasi dengan Divisi II agar memperoleh efek lebih besar,
  5. Serangan tersebut harus diketahui dunia internasional, untuk itu perlu mendapat dukungan dari:
  • Wakil Kepala Staf Angkatan Perang guna koordinasi dengan pemancar radio yang dimiliki oleh AURI dan Koordinator Pemerintah Pusat,
  • Unit PEPOLIT (Pendidikan Politik Tentara) Kementerian Pertahanan.
Tujuan utama dari ini rencana adalah bagaimana menunjukkan eksistensi TNI dan dengan demikian juga menunjukkan eksistensi Republik Indonesia kepada dunia internasional. Untuk menunjukkan eksistensi TNI, maka anggota UNCI, wartawan-wartawan asing serta para pengamat militer harus melihat perwira-perwira yang berseragam TNI.
Setelah dilakukan pembahasan yang mendalam, grand design yang diajukan oleh Hutagalung disetujui, dan khusus mengenai "serangan spektakuler" terhadap satu kota besar, Panglima Divisi III/GM III Kolonel Bambang Sugeng bersikukuh, bahwa yang harus diserang secara spektakuler adalah Yogyakarta.
Tiga alasan penting yang dikemukakan Bambang Sugeng untuk memilih Yogyakarta sebagai sasaran utama adalah:
  1. Yogyakarta adalah Ibukota RI, sehingga bila dapat direbut walau hanya untuk beberapa jam, akan berpengaruh besar terhadap perjuangan Indonesia melawan Belanda.
  2. Keberadaan banyak wartawan asing di Hotel Merdeka Yogyakarta, serta masih adanya anggota delegasi UNCI (KTN) serta pengamat militer dari PBB.
  3. Langsung di bawah wilayah Divisi III/GM III sehingga tidak perlu persetujuan Panglima/GM lain dan semua pasukan memahami dan menguasai situasi/daerah operasi.
Selain itu sejak dikeluarkan Perintah Siasat tertanggal 1 Januari 1949 dari Panglima Divisi III/Gubernur Militer III, untuk selalu mengadakan serangan terhadap tentara Belanda, telah dilancarkan beberapa serangan umum di wilayah Divisi III/GM III. Seluruh Divisi III dapat dikatakan telah terlatih dalam menyerang pertahanan tentara Belanda.
Selain itu, sejak dimulainya perang gerilya, pimpinan pemerintah sipil dari mulai Gubernur Wongsonegoro serta para Residen dan Bupati, selalu diikutsertakan dalam rapat dan pengambilan keputusan yang penting dan kerjasama selama ini sangat baik. Oleh karena itu, dapat dipastikan dukungan terutama untuk logistik dari seluruh rakyat.
Selanjutnya dibahas, pihak-pihak mana serta siapa saja yang perlu dilibatkan. Untuk skenario seperti disebut di atas, akan dicari beberapa pemuda berbadan tinggi dan tegap, yang lancar berbahasa Belanda, Inggris atau Prancis dan akan dilengkapi dengan seragam perwira TNI dari mulai sepatu sampai topi. Mereka sudah harus siap di dalam kota, dan pada waktu penyerangan telah dimulai, mereka harus masuk ke Hotel Merdeka guna menunjukkan diri kepada anggota-anggota UNCI serta wartawan-wartawan asing yang berada di hotel tersebut. Kolonel Wiyono, Pejabat Kepala Bagian PEPOLIT Kementerian Pertahanan yang juga berada di Gunung Sumbing akan ditugaskan mencari pemuda-pemuda yang sesuai dengan kriteria yang telah ditentukan, terutama yang fasih berbahasa Belanda dan Inggris.
Hal penting yang kedua adalah, dunia internasional harus mengetahui adanya Serangan Tentara Nasional Indonesia terhadap tentara Belanda, terutama terhadap Yogyakarta, Ibukota Republik. Dalam menyebarluaskan berita ini ke dunia internasional maka dibantu oleh Kol. T.B. Simatupang yang bermarkas di Pedukuhan Banaran, desa Banjarsari, untuk menghubungi pemancar radio Angkatan Udara RI (AURI) di Playen, dekat Wonosari, agar setelah serangan dilancarkan berita mengenai penyerangan besar-besaran oleh TNI atas Yogyakarta segera disiarkan.
Dalam kapasitasnya sebagai Wakil Kepala Staf Angkatan Perang, TB Simatupang lebih kompeten menyampaikan hal ini kepada pihak AURI daripada perwira Angkatan Darat. Diperkirakan apabila Belanda melihat bahwa Yogyakarta diserang secara besar-besaran, dipastikan mereka akan mendatangkan bantuan dari kota-kota lain di Jawa Tengah, dimana terdapat pasukan Belanda yang kuat seperti Magelang, Semarang dan Solo. Jarak tempuh (waktu itu) Magelang - Yogya hanya sekitar 3 - 4 jam saja; Solo - Yogya, sekitar 4 - 5 jam, dan Semarang - Yogya, sekitar 6 - 7 jam. Magelang dan Semarang (bagian Barat) berada di wilayah kewenangan Divisi III GM III, namun Solo, di bawah wewenang Panglima Divisi II/GM II Kolonel Gatot Subroto. Oleh karena itu, serangan di wilayah Divisi II dan III harus dikoordinasikan dengan baik sehingga dapat dilakukan operasi militer bersama dalam kurun waktu yang ditentukan, sehingga bantuan Belanda dari Solo dapat dihambat, atau paling tidak dapat diperlambat.
Pimpinan pemerintahan sipil, Gubernur Wongsonegoro, Residen Budiono, Residen Salamun, Bupati Sangidi dan Bupati Sumitro Kolopaking ditugaskan untuk mengkoordinasi persiapan dan pasokan perbekalan di wilayah masing-masing. Pada waktu bergerilya, para pejuang sering harus selalu pindah tempat, sehingga sangat tergantung dari bantuan rakyat dalam penyediaan perbekalan. Selama perang gerilya, bahkan Camat, Lurah serta Kepala Desa sangat berperan dalam menyiapkan dan memasok perbekalan (makanan dan minuman) bagi para gerilyawan. Ini semua telah diatur dan ditetapkan oleh pemerintah militer setempat.
Untuk pertolongan dan perawatan medis, diserahkan kepada PMI. Peran PMI sendiri juga telah dipersiapkan sejak menyusun konsep Perintah Siasat Panglima Besar. Dalam konsep Pertahanan Rakyat Total - sebagai pelengkap Perintah Siasat No. 1 - yang dikeluarkan oleh Staf Operatif (Stop) tanggal 3 Juni 1948, butir 8 menyebutkan: Kesehatan terutama tergantung kepada Kesehatan Rakyat dan P.M.I. karena itu evakuasi para dokter dan rumah obat mesti menjadi perhatian.
Walaupun dengan risiko besar, Sutarjo Kartohadikusumo, Ketua DPA yang juga adalah Ketua PMI (Palang Merah Indonesia), mengatur pengiriman obat-obatan bagi gerilyawan di front. Beberapa dokter dan staf PMI kemudian banyak yang ditangkap oleh Belanda dan ada juga yang mati tertembak sewaktu bertugas. Setelah rapat selesai, Komandan Wehrkreise II dan para pejabat sipil pulang ke tempat masing-masing guna mempersiapkan segala sesuatu, sesuai dengan tugas masing-masing. Kurir segera dikirim untuk menyampaikan keputusan rapat di Gunung Sumbing pada 18 Februari 1949 kepada Panglima Besar Sudirman dan Komandan Divisi II/Gubernur Militer II Kolonel Gatot Subroto.
Sebagaimana telah digariskan dalam pedoman pengiriman berita dan pemberian perintah, perintah yang sangat penting dan rahasia, harus disampaikan langsung oleh atasan kepada komandan pasukan yang bersangkutan. Maka rencana penyerangan atas Yogyakarta yang ada di wilayah Wehrkreise I di bawah pimpinan Letkol. Suharto, akan disampaikan langsung oleh Panglima Divisi III Kolonel Bambang Sugeng. Kurir segera dikirim kepada Komandan Wehrkreise III/Brigade 10, Letkol. Suharto, untuk memberitahu kedatangan Panglima Divisi III serta mempersiapkan pertemuan. Diputuskan untuk segera berangkat sore itu juga guna menyampaikan grand design kepada pihak-pihak yang terkait. Ikut dalam rombongan Panglima Divisi selain Letkol. dr. Hutagalung, antara lain juga dr. Kusen (dokter pribadi Bambang Sugeng), Bambang Surono (adik Bambang Sugeng), seorang mantri kesehatan, seorang sopir dari dr. Kusen, Letnan Amron Tanjung (ajudan Letkol Hutagalung) dan beberapa anggota staf Gubernur Militer (GM) serta pengawal.
Pertama-tama rombongan singgah di tempat Kol. Wiyono dari PEPOLIT, yang bermarkas tidak jauh dari markas Panglima Divisi, dan memberikan tugas untuk mencari pemuda berbadan tinggi dan tegap serta fasih berbahasa Belanda, Inggris atau Prancis yang akan diberi pakaian perwira TNI. Menjelang sore hari, Panglima Divisi beserta rombongan tiba di Pedukuhan Banaran mengunjungi Wakil Kepala Staf Angkatan Perang Kol. Simatupang. Selain anggota rombongan Bambang Sugeng, dalam pertemuan tersebut hadir juga Mr. M. Ali Budiarjo, yang kemudian menjadi ipar Simatupang.
Simatupang pada saat itu dimohonkan untuk mengkoordinasi pemberitaan ke luar negeri melaui pemancar radio AURI di Playen dan di Wiladek, yang ditangani oleh Koordinator Pemerintah Pusat.Setelah Simatupang menyetujui rencana grand design tersebut, Panglima Divisi segera mengeluarkan instruksi rahasia yang ditujukan kepada Komandan Wehrkreise I Kolonel Bachrun, yang akan disampaikan sendiri oleh Kol. Sarbini.
Brigade IX di bawah komando Letkol Achmad Yani, diperintahkan melakukan penghadangan terhadap bantuan Belanda dari Magelang ke Yogyakarta. Tanggal 19 Februari 1949. Panglima Divisi dan rombongan meneruskan perjalanan, yang selalu dilakukan pada malam hari dan beristirahat pada siang hari, untuk menghindari patroli Belanda. Penunjuk jalan juga selalu berganti di setiap desa. Dari Banaran rombongan menuju wilayah Wehrkreise III melalui pegunungan Menoreh untuk menyampaikan perintah kepada Komandan Wehrkreis III Letkol. Suharto. Bambang Sugeng beserta rombongan mampir di Pengasih, tempat kediaman mertua Bambang Sugeng dan masih sempat berenang di telaga yang ada di dekat Pengasih (Keterangan dari Bambang Purnomo, adik kandung alm. Bambang Sugeng, yang kini tinggal di Temanggung). Pertemuan dengan Letkol. Suharto berlangsung di Brosot, dekat Wates. Semula pertemuan akan dilakukan di dalam satu gedung sekolah, namun karena kuatir telah dibocorkan, maka pertemuan dilakukan di dalam sebuah gubug di tengah sawah. Hadir dalam pertemuan tersebut lima orang, yaitu Panglima Divisi III/Gubernur Militer III Kol. Bambang Sugeng, Perwira Teritorial Letkol. dr. Wiliater Hutagalung beserta ajudan Letnan Amron Tanjung, Komandan Wehrkreise III/Brigade X Letkol. Suharto beserta ajudan. Kepada Suharto diberikan perintah untuk mengadakan penyerangan antara tanggal 25 Februari dan 1 Maret 1949. Kepastian tanggal baru dapat ditentukan kemudian, setelah koordinasi serta kesiapan semua pihak terkait, antara lain dengan Kol. Wiyono dari Pepolit Kementerian Pertahanan.
Setelah semua persiapan matang, baru kemudian diputuskan (keputusan diambil tanggal 24 atau 25 Februari), bahwa serangan tersebut akan dilancarkan tanggal 1 Maret 1949, pukul 06.00 pagi. Instruksi segera diteruskan ke semua pihak yang terkait.
Puncak serangan dilakukan dengan serangan umum terhadap kota Yogyakarta (ibu kota negara) pada tanggal 1 Maret 1949, dibawah pimpinan Letnan Kolonel Suharto, Komandan Brigade 10 daerah Wehrkreise III, setelah terlebih dahulu mendapat persetujuan dari Sri Sultan Hamengkubuwono IX, Kepala Daerah Istimewa Yogyakarta.

Jalannya serangan Umum

Tanggal 1 Maret 1949, pagi hari, serangan secara besar-besaran yang serentak dilakukan di seluruh wilayah Divisi III/GM III dimulai, dengan fokus serangan adalah Ibukota Republik, Yogyakarta, serta koar-besaran oleh pasukan Brigade X yang diperkuat dengan satu Batalyon dari Brigade IX, sedangkan serangan terhadap pertahanan Belanda di Magelang dan penghadangan di jalur [[Magelta-kota di sekitar Yogyakarta, terutama Magelang, sesuai Instruksi Rahasia yang dikeluarkan oleh Panglima Divisi III/GM III Kolonel Bambang Sugeng kepada Komandan Wehrkreis I, Letkol Bahrun dan Komandan Wehrkreis II Letkol Sarbini. Pada saat yang bersamaan, serangan juga dilakukan di wilayah Divisi II/GM II, dengan fokus penyerangan adalah kota Solo, guna mengikat tentara Belanda dalam pertempuran agar tidak dapat mengirimkan bantuan ke Yogyakarta.
Pos komando ditempatkan di desa Muto. Pada malam hari menjelang serangan umum itu, pasukan telah merayap mendekati kota dan dalam jumlah kecil mulai disusupkan ke dalam kota. Pagi hari sekitar pukul 06.00, sewaktu sirene dibunyikan serangan segera dilancarkan ke segala penjuru kota. Dalam penyerangan ini Letkol Soeharto langsung memimpin pasukan dari sektor barat sampai ke batas Malioboro. Sektor Timur dipimpin Ventje Sumual, sektor selatan dan timur dipimpim Mayor Sardjono, sektor utara oleh Mayor Kusno. Sedangkan untuk sektor kota sendiri ditunjuk Letnan Amir Murtono dan Letnan Masduki sebagai pimpinan. TNI berhasil menduduki kota Yogyakarta selama 6 jam. Tepat pukul 12.00 siang, sebagaimana yang telah ditentukan semula,seluruh pasukkan TNI mundur
Serangan terhadap kota Solo yang juga dilakukan secara besar-besaran, dapat menahan Belanda di Solo sehingga tidak dapat mengirim bantuan dari Solo ke Yogyakarta, yang sedang diserang secara besar-besaran – Yogyakarta yang dilakukan oleh Brigade IX, hanya dapat memperlambat gerak pasukan bantuan Belanda dari Magelang ke Yogyakarta. Tentara Belanda dari Magelang dapat menerobos hadangan gerilyawan Republik, dan sampai di Yogyakarta sekitar pukul 11.00.

Kerugian di kedua belah pihak

Dari pihak Belanda, tercatat 6 orang tewas, dan diantaranya adalah 3 orang anggota polisi; selain itu 14 orang mendapat luka-luka. Segera setelah pasukan Belanda melumpuhkan serangan terebut, keadaan di dalam kota menjadi tenteram kembali. Kesibukan lalu-lintas dan pasar kembali seperti biasa, malam harinya dan hari-hari berikutnya keadaan tetap tenteram.
Pada hari Selasa siang pukul 12.00 Jenderal Meier (Komandan teritorial merangkap komandan pasukan di Jawa Tengah), Dr. Angent (Teritoriaal Bestuurs-Adviseur), Kolonel van Langen (komandan pasukan di Yogya) dan Residen Stock (Bestuurs-Adviseur untuk Yogya) telah mengunjungi kraton guna membicarakan keadaan dengan Sri Sultan.
Dalam serangan terhadap Yogya, pihak Indonesia mencatat korban sebagai berikut: 300 prajurit tewas, 53 anggota polisi tewas, rakyat yang tewas tidak dapat dihitung dengan pasti. Menurut majalah Belanda De Wappen Broeder terbitan Maret 1949, korban di pihak Belanda selama bulan Maret 1949 tercatat 200 orang tewas dan luka-luka.

Perkembangan setelah serangan umum 1 maret

Mr. Alexander Andries Maramis, yang berkedudukan di New Delhi menggambarkan betapa gembiranya mereka mendengar siaran radio yang ditangkap dari Burma, mengenai serangan besar-besaran Tentara Nasional Republik Indonesia terhadap Belanda. Berita tersebut menjadi Headlines di berbagai media cetak yang terbit di India. Hal ini diungkapkan oleh Mr. Maramis kepada dr. W. Hutagalung, ketika bertemu di tahun 50-an di Pulo Mas, Jakarta.
Serangan Umum 1 Maret mampu menguatkan posisi tawar dari Republik Indonesia, mempermalukan Belanda yang telah mengklaim bahwa RI sudah lemah. Tak lama setelah Serangan Umum 1 Maret terjadi Serangan Umum Surakarta yang menjadi salah satu keberhasilan pejuang RI yang paling gemilang karena membuktikan kepada Belanda, bahwa gerilya bukan saja mampu melakukan penyergapan atau sabotase, tetapi juga mampu melakukan serangan secara frontal ke tengah kota Solo yang dipertahankan dengan pasukan kavelerie, persenjataan berat - artileri, pasukan infantri dan komando yang tangguh. Serangan umum Solo inilah yang menyegel nasib Hindia Belanda untuk selamanya.
Sumber: http://id.wikipedia.org/wiki/Serangan_Umum_1_Maret_1949